Minggu, 05 Oktober 2014

Aku Dan Yogyakarta

Warga ‘sejenak’ Yogyakarta
Kali ini saya ingin bercerita tentang sebagian kisah dari hidup saya,dimana banyak pelajaran yang saya dapatkan,yang mungkin orang2 dapatkan ketika mereka hidup dirumah masing2.Hal-hal yang menurut mereka aneh,tapi menurut saya tidak,atau mungkin sebaliknnya,baiklah mari dimulai cerita nya.
September 2012,menjadi saat-saat dimana kehidupan Jakarta mulai tak kurasakan lagi,aku berpaling dari hiruk pikuk ibukota yang sangat ramai,kota yang kupilih yaitu Yogyakarta. Kota yang sering disebut kota pelajar dan kota budaya itu kini menjadi bagian dari kehidupanku.
Yogyakarta, siapa yang tak kenal kota Jogja,kota dengan sejuta keindahan budaya nya dan sejuta keistimewaan yang dimilikinya ,banyak orang yang jatuh cinta dengan kota ini dan ingin sekali pindah atau tinggal disana ,termasuk saya.
Kost,tempat tinggal yang sering dihuni orang2 perantauan pun kini menjadi tempat tinggalku juga. Aku bersama 2 teman SMA ku yang sama2 pindah ke kota Jogja menempati rumah yang lumayan besar,nyaman,dan sangat asri.disana kami berbagi suka dan duka dalam menjalani hari perhari.dilengkapi 3 kamar tidur ,1 kamar mandi ,dan ruang tamu yang kami jadikan tempat sehari hari menumpahkan cerita tentang kejadian yang kami alami.
Buat kami,awal bulan menjadi waktu yang sangat kami tunggu tunggu,dimana atm pun berisi,pada saatitu yang kami fikirkan hanyalah gimana bisa makan enak,segala kebutuhan terpenuhi,lebih tepatnya “keinginan”. Tanpa memikirkan 1 atau 2 pekan kemudian bagaimana caranya untuk membeli makan ,bahkan membeli bensin pun tak kami pikirkan.
Tibalah akhir bulan,hari-hari dimana warung makan banyak diserbu oleh anak kost,tetapi hanya membeli nasi saja. Itu pun kami lakukan,kadang kami memasak mie barengatau hanya dengan kecap kami memakan nasi tersebut.untungnya pada saat itu, harga nasi di Jogja untuk satu bungkusnya hanya 2000 rupiah, jadi kami masih bisa makan karna harga makanan disana yang jauh lebih murah dibandingkan dengan Ibukota.
Saya dan teman-teman pun mulai mengatur strategi keuangan dimana saya dan 2 teman saya itu membuat jadwal pengiriman uang dari orang tua,yang tadinya bersamaan di awal bulan sekarang menjadi per 10 hari 1 orang,misalkan saya di kirim uang jajan oleh orang tua di tanggal 1,maka teman saya yang satu di tanggal 10, dan yang satu lagi di tanggal 20, dengan bgitu kami jarang sekali kehabisan uang karna kami saling meminjam ,itu hal yang lumrah karna kami sudah berteman lama jadi sudah seperti saudara sendiri.
Kehidupan bebas pun kami dapatkan disana,tapi bukan berarti kami menjadi brutal dan seenaknya saja, saya sendiri hanya ‘cukup tau’ dengan kehidupan bebas diluar sana. Intinya menjadi anak kost itu mudah tapi susah untuk dijalanin. Dimana kita harus bisa bersosialisasi dengan lingkungan dan masyarakat sekitar yang kita tidak tahu mereka itu baik ataau tidak, lingkungan tersebut menerima kita atau tidak sebagai warga baru di lingkungan tersebut. Belum lagi beradaptasi sebagai warga kota Yogyakarta yang masyakaratnya sopan santun dan ramah-ramah, dimana bahasa pun akhirnya kami sendiri yang harus mengikutinya, loe dan gue menjadi aku dan kamu, ketika bertemu dengan orang di jalan walau tak saling kenal harus tetap menyapa, indahnya menjadi warga kota Yogyakarta.
Intinya banyak hal-hal baru yang saya dapatkan di kota Jogja,mulai dari pergaulan, bersosilisasi dengan masyarakat yang beda budaya dan saya yang harus mengikuti, me-manajemenkan uang yang diberi, mengatur diri sendiri yang dimana masih awam tentang kerasnya hidup diluar sana.

Jogja,saya sangat cinta dengan mu, izinkan aku tuk kembali lagi dan menjadi warga tetap disana.Trimakasih Yogyakarta telah memberi saya sedikit pelajaran hidup yang sangat bermakna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar