Warga
‘sejenak’ Yogyakarta
Kali ini saya
ingin bercerita tentang sebagian kisah dari hidup saya,dimana banyak pelajaran
yang saya dapatkan,yang mungkin orang2 dapatkan ketika mereka hidup dirumah
masing2.Hal-hal yang menurut mereka aneh,tapi menurut saya tidak,atau mungkin
sebaliknnya,baiklah mari dimulai cerita nya.
September 2012,menjadi
saat-saat dimana kehidupan Jakarta mulai tak kurasakan lagi,aku berpaling dari
hiruk pikuk ibukota yang sangat ramai,kota yang kupilih yaitu Yogyakarta. Kota
yang sering disebut kota pelajar dan kota budaya itu kini menjadi bagian dari
kehidupanku.
Yogyakarta,
siapa yang tak kenal kota Jogja,kota dengan sejuta keindahan budaya nya dan
sejuta keistimewaan yang dimilikinya ,banyak orang yang jatuh cinta dengan kota
ini dan ingin sekali pindah atau tinggal disana ,termasuk saya.
Kost,tempat
tinggal yang sering dihuni orang2 perantauan pun kini menjadi tempat tinggalku
juga. Aku bersama 2 teman SMA ku yang sama2 pindah ke kota Jogja menempati
rumah yang lumayan besar,nyaman,dan sangat asri.disana kami berbagi suka dan
duka dalam menjalani hari perhari.dilengkapi 3 kamar tidur ,1 kamar mandi ,dan
ruang tamu yang kami jadikan tempat sehari hari menumpahkan cerita tentang
kejadian yang kami alami.
Buat kami,awal
bulan menjadi waktu yang sangat kami tunggu tunggu,dimana atm pun berisi,pada
saatitu yang kami fikirkan hanyalah gimana bisa makan enak,segala kebutuhan
terpenuhi,lebih tepatnya “keinginan”. Tanpa memikirkan 1 atau 2 pekan kemudian
bagaimana caranya untuk membeli makan ,bahkan membeli bensin pun tak kami
pikirkan.
Tibalah akhir
bulan,hari-hari dimana warung makan banyak diserbu oleh anak kost,tetapi hanya
membeli nasi saja. Itu pun kami lakukan,kadang kami memasak mie barengatau
hanya dengan kecap kami memakan nasi tersebut.untungnya pada saat itu, harga
nasi di Jogja untuk satu bungkusnya hanya 2000 rupiah, jadi kami masih bisa
makan karna harga makanan disana yang jauh lebih murah dibandingkan dengan
Ibukota.
Saya dan
teman-teman pun mulai mengatur strategi keuangan dimana saya dan 2 teman saya
itu membuat jadwal pengiriman uang dari orang tua,yang tadinya bersamaan di
awal bulan sekarang menjadi per 10 hari 1 orang,misalkan saya di kirim uang
jajan oleh orang tua di tanggal 1,maka teman saya yang satu di tanggal 10, dan
yang satu lagi di tanggal 20, dengan bgitu kami jarang sekali kehabisan uang
karna kami saling meminjam ,itu hal yang lumrah karna kami sudah berteman lama
jadi sudah seperti saudara sendiri.
Kehidupan bebas
pun kami dapatkan disana,tapi bukan berarti kami menjadi brutal dan seenaknya
saja, saya sendiri hanya ‘cukup tau’ dengan kehidupan bebas diluar sana. Intinya
menjadi anak kost itu mudah tapi susah untuk dijalanin. Dimana kita harus bisa
bersosialisasi dengan lingkungan dan masyarakat sekitar yang kita tidak tahu mereka
itu baik ataau tidak, lingkungan tersebut menerima kita atau tidak sebagai
warga baru di lingkungan tersebut. Belum lagi beradaptasi sebagai warga kota
Yogyakarta yang masyakaratnya sopan santun dan ramah-ramah, dimana bahasa pun
akhirnya kami sendiri yang harus mengikutinya, loe dan gue menjadi aku
dan kamu, ketika bertemu dengan orang di jalan walau tak saling kenal harus
tetap menyapa, indahnya menjadi warga kota Yogyakarta.
Intinya banyak
hal-hal baru yang saya dapatkan di kota Jogja,mulai dari pergaulan,
bersosilisasi dengan masyarakat yang beda budaya dan saya yang harus mengikuti,
me-manajemenkan uang yang diberi, mengatur diri sendiri yang dimana masih awam
tentang kerasnya hidup diluar sana.
Jogja,saya
sangat cinta dengan mu, izinkan aku tuk kembali lagi dan menjadi warga tetap
disana.Trimakasih Yogyakarta telah memberi saya sedikit pelajaran hidup yang
sangat bermakna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar