Kamis, 22 Januari 2015

DAMPAK ELIT POLOTIK PADA MASYARAKAT 


                                  DAMPAK ELIT POLOTIK PADA MASYARAKAT 


Politik merupakan seni proses membentuk dan membagi-bagi kekuasaan melalui pengambilan keputusan. Politik berkaitan erat dengan kehidupan bermasyarakat atau kehidupan bernegara. Untuk mewujudkan kebaikan bersama, masyarakat membutuhkan politik. Politik digunakan dalam penyelenggaraan masyarakat (negara) dengan tujuan mendapatkan dan mempertahankan tahta dan membuat kebijakan publik.
Di dalam Masyarakat ada dua tipe yaitu masyarakat elit dan non elit. Masyarakat elit sendiri terdiri dari dari masyarakat elit politik dan elit penguasa. Elit Politik menurut Teoritikus Politik adalah orang-orang yang memiliki jabatan dalam sistem politik. Kelas elit adalah kelompok kecil penguasa yang mampu memonopoli kekuasaan dan menjalankan sistem politik. Kelas ini memiliki kewenangan besar dalam sistem politik.
Kondisi kalangan elite politik di Indonesia saat ini  banyak yang cenderung berpolitik dengan melalaikan etika kenegarawanan. Banyak sekali kenyataan bahwa mereka berpolitik dilakukan tanpa rasionalitas, mengedepankan emosi dan kepentingan kelompok, serta tidak mengutamakan kepentingan berbangsa. Hal ini sangat menghawatirkan karena bukan hanya terjadi pembunuhan karakter antarpemimpin nasional dengan memunculkan isu penyerangan pribadi, namun juga politik kekerasan pun terjadi. Para elite politik yang saat ini cenderung kurang peduli terhadap terjadinya konflik masyarakat dan tumbuhnya budaya kekerasan. Elite bisa bersikap seperti itu karena mereka sebagian besar berasal dari partai politik atau kelompok-kelompok yang berbasis primordial sehingga elite politik pun cenderung berperilaku yang sama dengan perilaku pendukungnya. Bahkan elite seperti ini merasa halal untuk membenturkan massa atau menggunakan massa untuk mendukung langkah politiknya.
Selain itu kurangnya komunikasi politik juga menjadi penyebab lahirnya elite politik seperti yang dikatakan sebelumnya. Yaitu elite politik yang tidak mampu menyuarakan kepentingan rakyat, namun juga menghasilkan orang-orang yang cenderung otoriter, termasuk politik kekerasan yang semakin berkembang karena perilaku politik dipandu oleh nilai-nilai emosi.
Saat ini negara sedang mengalami berbagai persoalan, tentu kita semua telah mahfum. Tidak hanya pada sektor atau bidang tertentu saja, persoalan telah muncul di hampir semua sendi kehidupan berbangsa. Kecenderungan yang ada, persoalan itu semakin hari bukannya semakin menyederhana tetapi kian kompleks dan rumit. Ini bisa terjadi karena Indonesia tengah di landa krisis sikap kenegaraan, patriot bangsa, kepemimpinan, ketiadaan idola, figur dan teladan yang menjadi panutan masyarakat dari pemuka agama dan pejabat. Banyak elite politik tidak bisa menjadi teladan, karena mereka mereproduksi identitas (suku, ras, agama) itu untuk komoditas politik. Ada kebutuhan yang sangat urgen dikerjakan oleh elit (agama) di negeri ini, yakni memberikan keteladanan atas umat dan warganya. Pasalnya, keteladanan nyaris tidak ada di Nusantara ini.
Demikian sulit mendapatkan teladan dari elit-elit politik, birokrat. Sebagian besar elit politik, birokrat terjerat dalam kehidupan yang serta materialistik, mengutamakan hal-hal yang serbamateri dan terpesona dengan glamor duniawi. Kehidupan mereka lebih dekat dengan syahwat Rahwana dari pada sufisme. Sufisme bahkan sering kali dicela tidak realitis untuk kehidupan sekarang. Syahwat Rahwana adalah syahwat angkara murka dan ingin menang sendiri. Sang pemimpin yang berpakaian berdasi necis, bersimbol garuda di dadanya menutup mata hatinya dengan mengabaikan suara rakyat Saat banyak rakyat kelaparan, jatuh miskin, penyakitan, bencana, sang pemimpin sibuk berburu mahkota, surga dengan menaikkan gaji, membangun istana dengan cara menilap uang negara melalui cara-cara legal.
.Bangsa yang tengah dilanda kelaparan massal, kemiskinan yang terus mengalami peningkatan, sekalipun pemerintah mengatakan kemiskinan menurun tiap tahunnya, bencana terus beruntun, fitnah politik terus mengendus dan saling curiga serta kemungkaran sosial seperti korupsi terus terjadi massif. Dengan demikian, keteladanan akan sangat diharapkan hadir dari elit-elit Politik di Indonesia. Dengan sikap kenegaraan, yang patriotik, tegas, jujur, adil inilah harus dimiliki oleh seorang pemimpin ideal guna memberikan keteladanan bagi masyarakat yang kian memudar di Bumi Nusantara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar